Kakekku Seorang Petani
Posted by koti
Mbah Amad Ngali…begitulah panggilannya.
Mbahku kakung ini orangnya keras, tegas, dan penuh pendirian. Dia adalah seorang petani ulung, dimana keahlian bertaninya di dapatkan turun temurun dari mbah buyutku dulu. Ehmm…Sudah berapa jaman kah yang dilalui kakek ya..?? Dari cerita-cerita yang pernah disenandungkan kakekku ini, katanya kakekku pernah mengalami jaman belanda, jepang, dan jaman Kelabu (jaman pemberontakan).
Menurut cerita kakekku, pernah suatu ketika ketika sedang “nyithak boto” (membuat batu bata merah) untuk keperluan membangun rumah dia melihat orang-orang kampung pada kebingungan berlarian untuk mengungsi, namun karena masih ada tanggungan yah kakekku ini tidak ikut mengungsi…menurut kabar yang beredar ternyata ada sepasukan DI/TII sedang menuju ke kampung.
Kondisi kampung sudah sangat lengang ketika simbah memutuskan untuk menyusul teman-temannya mengungsi, namun setelah berjalan sampai di perempatan jalan tengah kampung dari arah utara sudah kelihatan iring-iringan sepasukan lengkap dengan persenjataannya. Sudah kepalang basah terlihat sama pasukan itu dan bos pasukan juga sudah melambai-lambaikan tangan untuk meminta simbah mendekat, tidak ada alasan bagi simbah kecuali menghampiri mereka atau diberondong dengan senapan jika melarikan diri.
Setelah simbah mendekat yang mereka tanyakan hanyalah “dimanakan pasukan TNI, apakah ada sepasukan TNI yang lewat kampung sini..??”, tentunya sama simbah dijawab dengan polos dan apa adanya karena memang beberapa hari belakangan belum pernah melihat pasukan TNI yang lewat kampung.
Masih banyak sekali cerita-cerita jadul yang pernah dituturkan simbah ini kepadaku, terutama bagaimana pahitnya ketika hidup di jaman belanda kala itu, bagaimana susahnya untuk makan sehari-hari dengan diliputi suasana yang selalu mencekam. Secara geografis memang kampungku di klaten ini terletak antara kota Jogja dan Solo, jadi sudah terbiasa di-bombardir oleh pesawat-pesawat tempur Belanda, mengingat basis kekuatan TNI tersebar di luar Kota sekitar wilayah Jogja dan Solo.
Bagaimana bisa makan ketika sedang enak-enaknya mencangkul atau menanam padi…eh pesawat belanda sudah menderu-deru di langit sambil memuntahkan amunisinya, tentunya simbah-simbah petani ini harus berlarian tunggang-langgang masuk gua untuk menyelamatkan diri, yang jelas untuk menanam sebutir padi saja bayarannya adalah nyawa….
Dari penderitaan-penderitaan yang pernah dialami oleh mbah kakungku jaman dahulu tentunya akan membangkitkan sebuah angan-angan ataupun keinginan kepada anak turunnya agar tidak mengalami kepahitan hidup seperti yang pernah mereka alami. Atau paling tidak simbah-simbah petani kita berkeinginan agar anak turunnya jangan pernah menjadi petani lagi seperti mereka, dan punya harapan agar anak turunnya menjadi orang perpangkat dan berpendidikan ataupun bekerja pada pekerjaan-pekerjaan yang halus bukan pekerjaan kasar bertani seperti yang pernah mereka jalani.
Kalau disimak dari perjalanan sejarah negeri ini, melihat menengok dan merasakan kehidupan petani kita kok sepertinya tidak ada perubahan yang signifikan ya, apa yang salah dengan petani-petani kita..?? Ataukah memang pola hidup sederhana mereka yang sudah mengakar daging…?? Tentunya tidak dong karena kalau kita mencoba memahami arah Pembangunan di negeri ini secara umum masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni berorientasi pada pertumbuhan tanpa memperdulikan proses distribusi kesejahteraan para petani yang semakin timpang. Akibatnya terjadi pemusatan kapital yang hanya didominasi oleh kekuatan korporat dan konglomerasi. Hal ini menjadi ciri struktur ekonomi bangsa. Sementara itu, sebagian besar rakyat hanya menjadi kuli dinegerinya sendiri. Saat ini arah pembangunan masih diarahkan semata-mata pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan ekspor. Ujung-ujungnya, kondisi sosial ekonomi menjadi keropos dan negara tidak mampu memenuhi hak sebagian besar rakyatnya terutama para petani dan buruh tani untuk hidup layak dan bermartabat.
Bagi para pemuda desa yang rata-rata adalah anak-turun petani merantau adalah satu-satunya pilihan untuk lepas dari kesulitan hidup di desa, tidak ada lapangan pekerjaan sama sekali di desa kecuali mau menjadi buruh tani ataupun buruh pabrik dengan gaji yang pas-pasan saja. Siapa sih yang tidak ingin hidup berkecukupan secara sandang, pangan, papan dan pendidikan..??.
Masih relevankah arah pembangunan pertanian kita…?
Bagi aku sendiri pekerjaan bertani adalah pekerjaan yang sangat-sangat berat, secara nyata di masa kecilku dulu pernah beberapa kali membantu kakek untuk mencangkul di sawah, “waduh mbah kesel tur pegel rasane..”, apalagi harus rajin ke sawah tiap sore untuk menyiram tanaman kacang-kacangan, jaman dahulu memang jaman yang tradisonal sih mungkin ya, jaman sekarang kan sudah ada traktor dan diesel to he..he..
Kalo keinginan simbah-simbah petani kita itu terwujud terus siapakah penerus beliau, petani-petani muda. Kalau besar semua harus jadi orang berpangkat karena jadi petani itu berat. Padahal bertani adalah pekerjaan yang mulia kan..Buat kakek terimakasih telah sedikit mengajari aku bagaimana susahnya hidup sebagai petani.
17 Responses to “Kakekku Seorang Petani”
Leave a Reply

.jpg)



July 14th, 2008 at 7:55 pm
Wah Koti ternyata bukan orang Indonesia, kalau bangsa indonesia khan kakek buyutnya adalah pelaut.
*lari tunggang-langgang berlindung ke gua*
July 14th, 2008 at 8:21 pm
bertani ganja ae ti. ajak bagas mesisan. dekne dadi investor’e
July 14th, 2008 at 8:29 pm
mbahmu kongkon ngeblog dewe ti, nanti tak kasih domain dan hostinge…..sesama petani kudu toleran kan ti…..
July 14th, 2008 at 8:43 pm
bagas, dudi, uconk# He..he…sayangnya mbahku udah keburu almarhum kawan-kawan, kalo tidak boleh juga tuh bertani ganja sama ngeblog.
July 15th, 2008 at 3:44 am
@dudi: nah kan..nah kan…
Mesti mengajak ke hal yang gak benar, akhlak still low™ masih tetap melekat ternyata.
*masuk lagi ke gua*
July 16th, 2008 at 1:40 pm
kalo diliat dari mbahmu ke dirimu ada loncatan 1 generasi (ortu).
dg kondisi kotiman skrg ini saya liat sudah luar biasa kemajuannya (kalo nggak boleh di bilang fantastis) karena mbahnya dulu seorang petani sedangkan cucunya sudah bisa jadi hacker (so perubahan pengetahuan yang luar biasa to?)
**** long live education ****
July 17th, 2008 at 1:28 am
cucu petani tiga jaman koleksi tiga gepe. betapa…
July 21st, 2008 at 2:45 pm
mbahmu pasti namanya Fajar
July 23rd, 2008 at 8:42 am
waahh,bocah jaman biyen buku tulise mek siji,lungguh e selalu nang mburi,neng pas pengumuman pmdk ketompo disik dewe,perpisahan ngumbi beer saiki wes berubah dewasa,wakakakakakakak.
perjalanan simbahmu merupakan trek tersendiri bagi beliau tentunya dan aku yakin trek kita sekarang lebih susah daripada trek beliaunya,jadi boleh jadi beliau sudah meninggal tapi semangat untuk bertahan hidup pasti mengalir kesemua generasi.
wehh ngomong opo iki…yoo weslah turu meneh
July 23rd, 2008 at 11:21 am
oalahhhh ti ti….kapan ndungo bareng gawe poro mbah-mbah?
July 23rd, 2008 at 12:15 pm
whuaa..nemu blognya mas koti…wah mas ternyata perjuangan menjadi petani itu berat ya…hmm
August 2nd, 2008 at 1:12 pm
lha gak kliru ta mbahe ?
mbake koti kan seorang pelawak…..bukan petani
“Mbah RANTO GUDEL”
August 5th, 2008 at 1:17 pm
ti koti..mulia sekali dirimu
September 2nd, 2008 at 12:29 am
wah good banget!!podo wong solone tak dukung ti!masalahe mbahku yo petani
September 20th, 2008 at 4:50 pm
lha terus kalo semua orang udah mendapatkan pekerjaan halus semacam yang di tulis disitu ,lantas kita makan apa yah,kompi kah? kertas? engga juga kan? ehehehhe.. jadi petani yang enak juga yang gimana ,di negeri kita jadi petani dari jaman dulu mpe sekarang di peras doang gitu,kalo dulu di peras oleh orang penjajah(lumrah,sengsara) dan sekarang euww di peras orang negeri sendiri(see sambate petani desa)…bandingkan dengan orang-orang nduwuran apa yang mereka lakukan …(ku hanya asal nyeplos)
October 9th, 2008 at 10:18 am
wah mas butuh ki, ceritra ttg pertanian jaman dulu yg mengolah lahan secara alami blum ada pupuk, pestisida, varietasnya juga msi padi lokal, trus masi pake lumbung padi.lo ada crita gitu masukkan emailku ya mas.soalnya prihatin pertanian skrg yg mule hibrida,pupuk, pestisida semakin ga terkontrol.menjadikan varietas lokal yg harusnya jd plasma nutfah ilang, keseimbangan ekologi juga rusak. padhal katanya jaman dulu hama-hama tanaman misal tikus, burung memang nyerang padi tp mereka rukun ma petani jd ga terlalu merugikan petani.
aku ingin pertanian jaman dulu, alami….i love petani
October 8th, 2009 at 12:49 am
Salam kenal mas
Numpang baca dan komen di sini.
Membaca apa yang mas posting, saya sendiri pernah merasakannya saat pulang kampung, tepatnya ke desa asal ayah saya. Disana, kakek saya yang sudah uzur, masih kuat untuk mengerjakan pekerjaan2 yg (bisa dibilang) memerlukan tenaga layaknya anak muda spt qta
)
Saya sendiri belum terbiasa mencangkul (dan lebih enak mencet2 keyboard
Klo di pikiran saya sih, bantuan untuk petani hendaknya bukan hanya pupuk semata, tapi jaminan pendidikan dan kesehatan untuk merak dan keluarga. Sebagai kontribusinya, kaum petani dapat terus berkarya dlm bidang pertanian, jika bisa, memadukan antara tekonolgi dgn konsep padat karya, sehingga ada banyak tenaga kerja yg bisa diserap.
keuntungannya? Disatu sisi, qta bisa memenuhi sendiri keperluan pangan qta tanpa perlu ngimport 9apalagi dari negara yg lebih kecil wilayahnya, masak harus barter dgn peswat sih?
). Di sisi lain, regenerasi kaum petani akan terus ada, dgn memanfaatkan kemajuan teknologi, tanpa mengenyampingkan penyerapan tenaga kerja yg banyak
Jika semua orang ingin di atas, lalu siapa yg akan mengisi bagian bawah dan tengah?
Dan jika ingin seimbang, seharusnya setiap bagian (atas, tengah, bawah) terisi semua dan saling berhubungan
Salam